Selasa, 27 Februari 2018

Inilah Macam-macam Tradisi Di Bali Yang Unik Dan Menarik


Setiap daerah memiliki daya tariknya masing-masing. Pulau Bali memang terkenal akan sejuta pesona alamnya. Tidak hanya terkenal seindonesia, tetapi bahkan masyarakat dunia pun sudah sangat mengenal pulau ini. Selain sebagai destinasi wisata, Bali juga menyimpan segudang keunikan. Berikut ini kami merangkum macam-macam tradisi di Bali yang unik dan Menarik. Semoga bisa menjadi referensi yang lengkap saat anda berkunjung ke Bali.

Macam-macam Tradisi Di Bali Yang Unik Dan Menarik

Berikut macam-macam tradisi di Bali yang unik dan menarik kami sajikan secara detail beserta penjelasannya.

1. Omed-Omedan

Omed-omedan atau yang memiliki arti ciuman massal. Tradisi unik ini dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Dilakukan oleh warga Banjar Kaja Desa Sesetan, Denpasar, Bali. Awalnya para pemuda dan pemudi diarak dengan cara dipanggul oleh warga kemudian mereka dipertemukan dengan lawan jenisnya. Mereka harus saling tarik-menarik dan berciuman.

Peserta yang diperbolehkan untuk mengikutinya haruslah sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan belum lulus kuliah. Pakaian adat Bali wajib digunakan oleh para peserta yang mengikuti tradisi ini. Ritual ini bertujuan untuk mencegah desa mereka dari serangan wabah penyakit.

2. Ngerebong

Tradisi Ngerebong ini terbilang unik dan aneh karena semua warga akan mengalami kesurupan massal. Desa Pakeraman, Kesiman, Denpasar merupakan tempat dilakukannya tradisi ini. Pelaksanaannya setiap 8 hari setelah Kuningan. Warga percaya bahwa pada hari itulah para dewa akan turun ke bumi dan berkumpul. Selama prosesi, semua umat Hindu berteriak histeris, menari, serta menusukkan keris ke tubuhnya karena kesurupan. Namun, anehnya seluruh tubuh mereka sama sekali tidak ada yang terluka.

3. Perang Pandan

Pemuda Desa Tenganan setiap setahun sekali selalu mengadakan ritual suci yaitu berupa perkelahian menggunakan daun pandan berduri. Tujuannya sebagai wujud rasa hormat kepada Dewa Indra yang dipercayai sebagai dewa perang yang paling disegani. Tidak hanya menggunakan daun pandan sebagai pedangnya, namun mereka juga menggunakan tameng yang terbuat dari anyaman bambu agar seperti perang di zaman kerajaan.

4. Pawai Ogoh-Ogoh

Pernah kan anda mendengar istilah pawai ogoh-ogoh? Pawai ini biasa dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi oleh masyarakat Bali. Mereka mengelilingi seluruh ruas jalan dengan mengarak patung-patung raksasa yang bentuknya menyeramkan. Ogoh-ogoh tersebut merupakan wujud dari Buta Kala yang memiliki watak jahat. Namun, ada pula yang membuat kreasi ogoh-ogoh dengan mengambil tokoh kartun seperti naruto yang dibuat dengan wajah menyeramkan.

5. Gebug Ende

Ritual pemanggil hujan yang disebut dengan Gebug Ende ini dilakukan oleh warga Desa Seraya ketika musim kemarau telah tiba. Mereka melakukan sembahyang dan mempersembahkan sesajian terlebih dahulu untuk mengawalinya. Kemudian mereka akan bertarung dengan lawannya sambil membawa tongkat rotan yang panjangnya 1,5 meter. Hal inilah yang menjadikan tradisi ini dinamakan “Gebug” yang artinya memukul dan “Ende” artinya tameng dari rotan.

6. Festival Layang-Layang Terbesar Di Indonesia

Apabila anda berlibur ke Bali pada bulan Juni sampai Agustus, anda bisa menyaksikan festival layang-layang terbesar khas Bali. Pemuda Banyak Banjar yang sering mengadakan festival ini. Layang-layang yang digunakan kompetisi haruslah yang besar dan unik sehingga para wisatawan tertarik untuk menyaksikannya.

7. Mekokek

Warga Desa Munggu, Bali sering mengadakan Mekokek yang merupakan tradisi tolak bala. Bertujuan untuk memohon keselamatan. Pada awalnya mereka melakukan sembahyang serta mengucapkan terimakasih karena telah diberikan hasil kebun yang melimpah. Kemudian mereka berkumpul di sumber mata air dengan membawa tongkat sepanjang 2-5 meter. Tongkat tersebut akan digunakan untuk membentuk piramida. Agar mempermudah, peserta bisa naik ke puncaknya untuk memberikan komando. Tujuannya yaitu untuk menabrakkan piramida tongkat dari kelompok lain.

8. Ter-Teran

Tradisi yang satu ini bisa dibilang mengerikan karena warga Desa Jasri, Karangasem akan melakukan perang menggunakan api. Ter-teran biasanya diadakan pada malam Nyepi. Setelah matahari terbenam, semua penerangan akan dipadamkan sehingga desa akan sangat gelap.

Para pemuda harus menyiapkan obor yang terbuat dari daun kelapa kering. Dengan bantuan pendeta, para pemuda tersebut menyalakan api dan melemparkannya. Kemudian berpencar menjadi dua kelompok, lagi-lagi mereka harus menyalakan obor dan saling adu lempar obor. Peperangan ini semakin seru ketika medan perang dipenuhi asap tebal dan percikan api.

Banyak peserta yang mengalami luka bakar, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang kesakitan dan balas dendam. Karena tujuannya adalah untuk membersihkan desa dari kejahatan dan keburukan.

Artikel Terkait

Berbagi informasi bisnis dan peluang usaha untuk Anda. Kontak kami utk informasi selengkapnya


EmoticonEmoticon